Membicarakan perkembangan pendidikan di Indonesia seringkali membuat kita mengelus dada. Betapa tidak, segenap problematika yang menjadi awan mendung masih menyelimuti aspek yang memiliki peran signifikan bagi keberlangsungan bangsa ini. Jika ditelusuri ada empat persoalan besar yang menjadi perhatian dalam bidang pendidikan. Pertama, persoalan mengenai mahalnya biaya pendidikan. Untuk masuk TK dan SD saja diperlukan biaya sekitar lima ratus ribu rupiah dan masuk SMP atau SMA meningkat menjadi satu hingga dua juta rupiah. Angka ini terus meningkat hingga jenjang pendidikan tinggi hingga mencapai angka ratusan juta rupiah! Padahal menurut BPS, kelompok masyarakat yang memiliki income perkapita hanya rata-rata saratus tiga puluh ribu rupiah (kategori miskin) mencapai jumlah sekitar 46 juta jiwa, jumlah tersebut termasuk jumlah penduduk miskin kota dan desa. Ya.. pendidikan saat ini bisa jadi hanya dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang beruang lalu bagaimana dengan mereka yang termasuk dalam kategori miskin, padahal pendidikan merupakan hak asasi yang harus dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat tanpa kecuali.
Persoalan kedua adalah mutu pengajar yang dimiliki. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa tenaga pengajar harus lulusan sarjana, tetapi faktanya masih terdapat sekitar lima puluh persen guru atau pengajar yang memiliki ijasah D2 untuk keperluan mengajarnya. Belum lagi paradigma bahwa guru bisa segalanya dan anak didik sebagai botol kosong juga menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan pengajar kepada anak didiknya tentu sama sekali bertentangan dengan cita-cita dan tujuan pendidikan itu sendiri. Seringkali guru yang hanya menjelaskan teori tanpa menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Membacakan teori tanpa mengerti bagaimana potensi belajar anak didiknya. Bagaimana anak didik dapat memahami pelajaran jika pengajarnya tidak menjelaskan bagaimana caranya berdasarkan potensi anak didik. Seharusnya guru tidak hanya berfungsi center of science (pusat dari ilmu pengetahuan) tetapi juga menjadi sahabat bagi anak didik untuk terus menemani dan menjelaskan bagaimana cara memahami pelajaran yang diterimanya. Kedekatan (aspek afektif-baca:emosi-) antara pengajar dengan siswa sangat berperan dalam proses belajar mengajar.
Persoalan ketiga adalah persoalan pembangunan infrastruktur bagi kelayakan proses belajar mengajar pendidikan. Sekitar lima puluh persen kondisi gedung sekolah dalam keadaan rusak dan tidak layak untuk berjalannya proses belajar mengajar. Tidak terbayangkan bagaimana anak didik harus beratapkan langit ketika belajar.
Persoalan keempat adalah kurikulum pendidikan yang masih memiliki paradigma simplistik, dimana pintar dalam aspek akademis menjadi tolok ukur. Bahkan, Orang tua sampai merepotkan diri bahkan memaksakan anaknya untuk bisa menjadikan anaknya ’expert’ dalam semua pelajaran, les ini lah.. kursus itu lahh.. tetapi anak Indonesia tidak pernah belajar mengerti bagaimana pintar dalam kehidupan. Pendidikan Indonesia belum menghasilkan generasi dengan etos kerja tinggi, kejujuran, disiplin dan semangat yang tinggi.
Muara dari berbagai persoalan tersebut adalah, lahirnya generasi kwalitet 2. Pelajar dengan kemampuan dan keterampilan yang minim, pelajar dengan tingkat inteligensi yang rendah, pelajar yang terlibat tawuran, pelajar yang terlibat narkoba, pelajar yang terlibat seks bebas, pelajar yang tidak mampu bertahan dalam hidup dan menjadi bulan-bulanan modernisasi zaman?!!!
Berbagai persoalan tersebut akan memerlukan optimalisasi peran dari seluruh lapisan negara. Keluarga sebagai lapisan pertama memiliki peran sebagai institusi awal pendidikan, kedua sekolah sebagai institusi formal yang berfungsi memadukan semua aspek pendidikan. Negara atau pemerintah yang berperan sebagai penentu kebijakan, hendaknya lebih memperhatikan lagi aspek yang mendasar bagi rakyatnya ini. Belum lagi persoalan (nambah lagi deh persoalannya) anggaran pendidikan yang juga masih dalam wilayah kewenangan pemerintah. Anggaran pendidikan yang tidak mencapai 20% disinyalir sebagai akar dari segudang persoalan pendidikan. Bandingkan saja dengan negara tetangga Malaysia yang menganggarkan 40% untuk proses pendidikan rakyatnya. Menjadi sebuah keniscayaan jika pendidikan Indonesia semakin tertinggal jauh dari negara berkembang yang lain. Telah dirasakan upaya serius pemerintah dalam menangani pendidikan bagi anak bangsa, tetapi tetap saja belum dapat dirasakan secara signifikan. Semoga dengan kemampuan mengidentifikasi persoalan yang ada dan motivasi tinggi untuk perubahan, bangsa ini menuju ke arah pencerahan pendidikan. Ya Allah bebaskan kami dari kebodohan dan keserakahan dunia…
Tidak ada kata lain yang dapat teriakkan kepada Yahudi (La’natullah ‘Alaihim) selain BIADAB!!! Dengan alasan akan menghanguskan pergerakan HAMAS tetapi yang terjadi adalah ribuan nyawa penduduk sipil Palestina yang menjadi korban.





Comment