Menjadi Bangsa Besar Yang Menghargai Pendidikan

28 03 2009

Membicarakan perkembangan pendidikan di Indonesia seringkali membuat kita mengelus dada. Betapa tidak, segenap problematika yang menjadi awan mendung masih menyelimuti aspek yang memiliki peran signifikan bagi keberlangsungan bangsa ini. Jika ditelusuri ada empat persoalan besar yang menjadi perhatian dalam bidang pendidikan. Pertama, persoalan mengenai mahalnya biaya pendidikan. Untuk masuk TK dan SD saja diperlukan biaya sekitar lima ratus ribu rupiah dan masuk SMP atau SMA meningkat menjadi satu hingga dua juta rupiah. Angka ini terus meningkat hingga jenjang pendidikan tinggi hingga mencapai angka ratusan juta rupiah! Padahal menurut BPS, kelompok masyarakat yang memiliki income perkapita hanya rata-rata saratus tiga puluh ribu rupiah (kategori miskin) mencapai jumlah sekitar 46 juta jiwa, jumlah tersebut termasuk jumlah penduduk miskin kota dan desa. Ya.. pendidikan saat ini bisa jadi hanya dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang beruang lalu bagaimana dengan mereka yang termasuk dalam kategori miskin, padahal pendidikan merupakan hak asasi yang harus dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat tanpa kecuali.

Persoalan kedua adalah mutu pengajar yang dimiliki. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa tenaga pengajar harus lulusan sarjana, tetapi faktanya masih terdapat sekitar lima puluh persen guru atau pengajar yang memiliki ijasah D2 untuk keperluan mengajarnya. Belum lagi paradigma bahwa guru bisa segalanya dan anak didik sebagai botol kosong juga menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan pengajar kepada anak didiknya tentu sama sekali bertentangan dengan cita-cita dan tujuan pendidikan itu sendiri. Seringkali guru yang hanya menjelaskan teori tanpa menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Membacakan teori tanpa mengerti bagaimana potensi belajar anak didiknya. Bagaimana anak didik dapat memahami pelajaran jika pengajarnya tidak menjelaskan bagaimana caranya berdasarkan potensi anak didik. Seharusnya guru tidak hanya berfungsi center of science (pusat dari ilmu pengetahuan) tetapi juga menjadi sahabat bagi anak didik untuk terus menemani dan menjelaskan bagaimana cara memahami pelajaran yang diterimanya. Kedekatan (aspek afektif-baca:emosi-) antara pengajar dengan siswa sangat berperan dalam proses belajar mengajar.

Persoalan ketiga adalah persoalan pembangunan infrastruktur bagi kelayakan proses belajar mengajar pendidikan. Sekitar lima puluh persen kondisi gedung sekolah dalam keadaan rusak dan tidak layak untuk berjalannya proses belajar mengajar. Tidak terbayangkan bagaimana anak didik harus beratapkan langit ketika belajar.

Persoalan keempat adalah kurikulum pendidikan yang masih memiliki paradigma simplistik, dimana pintar dalam aspek akademis menjadi tolok ukur. Bahkan, Orang tua sampai merepotkan diri bahkan memaksakan anaknya untuk bisa menjadikan anaknya ’expert’ dalam semua pelajaran, les ini lah.. kursus itu lahh.. tetapi anak Indonesia tidak pernah belajar mengerti bagaimana pintar dalam kehidupan. Pendidikan Indonesia belum menghasilkan generasi dengan etos kerja tinggi, kejujuran, disiplin dan semangat yang tinggi.

Muara dari berbagai persoalan tersebut adalah, lahirnya generasi kwalitet 2. Pelajar dengan kemampuan dan keterampilan yang minim, pelajar dengan tingkat inteligensi yang rendah, pelajar yang terlibat tawuran, pelajar yang terlibat narkoba, pelajar yang terlibat seks bebas, pelajar yang tidak mampu bertahan dalam hidup dan menjadi bulan-bulanan modernisasi zaman?!!!

Berbagai persoalan tersebut akan memerlukan optimalisasi peran dari seluruh lapisan negara. Keluarga sebagai lapisan pertama memiliki peran sebagai institusi awal pendidikan, kedua sekolah sebagai institusi formal yang berfungsi memadukan semua aspek pendidikan. Negara atau pemerintah yang berperan sebagai penentu kebijakan, hendaknya lebih memperhatikan lagi aspek yang mendasar bagi rakyatnya ini. Belum lagi persoalan (nambah lagi deh persoalannya) anggaran pendidikan yang juga masih dalam wilayah kewenangan pemerintah. Anggaran pendidikan yang tidak mencapai 20% disinyalir sebagai akar dari segudang persoalan pendidikan. Bandingkan saja dengan negara tetangga Malaysia yang menganggarkan 40% untuk proses pendidikan rakyatnya. Menjadi sebuah keniscayaan jika pendidikan Indonesia semakin tertinggal jauh dari negara berkembang yang lain. Telah dirasakan upaya serius pemerintah dalam menangani pendidikan bagi anak bangsa, tetapi tetap saja belum dapat dirasakan secara signifikan. Semoga dengan kemampuan mengidentifikasi persoalan yang ada dan motivasi tinggi untuk perubahan, bangsa ini menuju ke arah pencerahan pendidikan. Ya Allah bebaskan kami dari kebodohan dan keserakahan dunia…





Kehampaan Nilai

28 03 2009

llmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi yang  seharusnya memberikan kontribusi bagi kemajuan kemanusiaan  justru semakin menjerumuskan manusia kedalam jurang kenistaan yang jauh dari nilai kearifan. Dan manusia semakin tidak jelas menentukan arah hidupnya. Seperti yang diungkapkan oleh Max Scheller: ”Tidak ada periode lain dalam pengetahuan manusiawi dimana manusia semakin problematic, seperti pada periode kita ini. Kita tidak lagi memiliki gambaran yang jelas dan konsisten tentang manusia. Semakin banyak ilmu-ilmu khusus yang terjun mempelajari tenatang manusia, tidak semakin menjernihkan konsepsi kita tentang manusia; sebaliknya semakin membingungkan dan mengaburkannya”.

Penggagas psikoanalisa, Sigmund Freud menjelaskan bahwa perilaku manusia   dikendalikan sepenuhnya oleh insting-insting libido dan hasrat mortalitas yang agresif. Oleh karena itu manusia yang berperilaku didasarkan pada syahwat dan dorongan atau insting-insting yang berorientasi pada materi akan menunjukkan perilaku yang selayaknya perilaku binatang. Problematika berpikir yang menjadi ciri manusia modern adalah lebih mementingkan kepentingan materilnya dalam memahami kehidupan, semua dilakukan atas dasar ‘kecepatan’ dalam mendapatkan sesuatu (instan) dan selalu mengutamakan sesuatu atas dasar ‘rasa nikmat’ (hedonisme).Budayawan Indonesia Mudji Sutrisno mengatakan: “Minim sekali orang yang hidup atas dasar nilai. Semua pihak baik pemimpin, politisi maupun wartawan sekalipun lebih menyandarkan hidup pada unsur kepentingan. Kita menuliskan, kita mengerjakan sesuatu atas dasar kepentingan, yaitu fisik karena lebih dekat dan bisa langsung digarap. Yang lebih menghargai proses dan nilai kehidupan itu nol! Semua lebih mementingkan yang instan”.

Manusia memang telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri; tapi pada saat yang sama manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri alias, manusia tidak dapat lepas dari belenggu lain yaitu penyembahan kepada diri sendiri. Alat-alat modern yang diyakini dapat digunakan untuk kemaslahatan kehidupan umat manusia justru menyebabkan mansuia menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Bahkan alat teknologi hanya menjadi alat untuk kepentingan individu yang dipaksakan kepada massa. Teknologi bahkan hanya bersifat semu yang hanya memperbudak masyarakat menjadi makhluk otomat dan menjadi hamba atas ciptaannya sendiri. Problematika yang terjadi saat ini semakin kompleks dan mengalami komplikasi kronis yang belum menunjukkan adanya tanda-tasnda kesembuhan. Manusia menjadi semakin ‘liar’ dan tidak mampu lagi memahami hakikat hidupnya saat ini. Kejumudan berpikir manusia menjadikannya tidak lagi dapat menggunakan akal sehatnya dan bahkan hati nuraninya.

Kita bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana seksualitas menjadi komoditi utama di beberapa media kita. Dengan mudah dan tanpa adanya rasa bersalah seorang wanita akhirnya rela menggadaikan tubuhnya hanya untuk mendapatkan beberapa ratus ribu rupiah, pergaulan bebas para muda-mudi yang menjadi trendsetter dan beberapa kerusakan perilaku lainnya. Persoalan dehumanisasi yang lebih luas seperti saat kita menyaksikan bagaimana bengisnya negara imperialis barat yang melakukan penyerangan ke beberapa negara kecil yang dianggapnya berbahaya, ratusan bahkan ribuan rakyat tak berdosa menjadi korbannya.

Manusia menjadi srigala bagi manusia yang lain. Manusia berhak menentukan hidup manusia yang lain bahkan manusia berhak berlagak seperti Tuhan bagi manusia yang lain. Fromm mengatakan bahwa ketidakadaan nilai dalam kehidupan manusia adalah akibat dari manusia tidak menerima otoritas dari Tuhan. Menurut Fromm, siapa yang tidak menuruti otoritas Tuhan akan mengikuti: 1) relativisme penuh, dimana nilai dan norma sepenuhnya adalah urusan pribadi, 2) nilai tergantung dari masyarakat, sehingga nilai  golongan dominan akan menguasai dan 3) nilai tergantung pada kondisi biologis, sehingga darwinisme sosial, egoisme, kompetisi dan agresivitas adalah nilai-nilai kebajikan.

Jauh sebelum kerusakan manusia ini menggejala, Islam sudah memperingatinya melalui Kitab sucinya Al-Qur’an: “Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)”. (QS. 30:41). Dan diperjelas kembali melalui Sunnah Nabi besar Muhammad SAW:”Akan tiba zaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya urusan perut dan kebanggaan mereka hanya pada benda semata. Kiblat mereka hanya urusan seks (wanita) dan agama mereka adalah dinar (uang) dan dirham (uang). Mereka adalah makhluk terjelek dan tidak ada kebaikan di sisi Allah”. Rasulullah menambahkan kembali dalam sabdanya:”Dalam umat ini akan ada kebinasaan dan kemusnahan”, sahabat bertanya:”kapankah itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda:”Jika biduanita makin banyak, musik dan minum khamr makin banyak”. Kembali Rasulullah menegaskan bahwa ciri-ciri kehancuran zaman ditandai dengan:”Ketika itu Allah mengirim angin yang harum lalu mencabut nyawa setiap mu’min dan muslim, hingga yang tersisa adalah orang-orang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (di muka umum tanpa rasa malu), maka saat itulah kiamat akan terjadi”.

Islam memberikan pandangan yang jelas dan komprehensif mengenai manusia dan kehidupan yang dinaunginya. Pemikiran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan, dan akhlak Islam. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Sedangkan nilai yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian dan akhlak. Selebihnya adalah nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain seperti mu’amalah, sangsi, hubungan antar negara dan peraturan publik lainnya. “Kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (yaitu Al-qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu”. (QS. An-Nahl:89).

Islam adalah agama humanis. Islam tidak akan membebani kewajiban yang berat yang tidak sesuai dengan kemampuan hambanya.”Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah:286). Manusia pada dasarnya juga memiliki naluri untuk menyandarkan segala kebutuhan dan keluh kesahnya kepada Dzat yang lebih Agung, Yang Maha Besar, Dzat itu tiada lain adalah Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Perasaan lemah, kerdil dan merasa tidak memiliki apa-apa diimplementasikan manusia melalui ibadah yang semata-mata untuk mengagungkan Dzat Yang Maha besar. Disinilah letak rasionalitas mengapa akhirnya manusia membutuhkan agama, dan mengapa Allah Subhannahu Wa Ta’ala menjadi Tuhan yang pantas disembah dan tiada Tuhan lain yang pantas diibadahi selain Dia. “Tidakkah kamu melihat bagaimana kepada Allah bertasbih langit dan bumi serta burung-burung dengan berbaris”. (QS. An-Nur:41).

Sehingga bagi seorang muslim cukuplah Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup dalam menentukan langkah, bagi kita cukuplah hanya Allah SWT yang pantas kita ibadahi, dan cukuplah bagi kita untuk mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah yang wajib kita patuhi segala apa yang menjadi contoh dalam Sunnahnya. Wallahu A’lam Bishowab.

Sumber:

Purwanto, Yadi. 2002. Buku Ajar Kuliah Pasca Sarjana Psikologi. UMS

Kuntowijoyo. 2004. Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi dan Etika. Jakarta: Teraju Mizan

Erich Fromm dalam Kuntowijoyo. 2004. idem





LA’NATULLAH ‘ALAIHIM

20 01 2009

israel-flagTidak ada kata lain yang dapat teriakkan kepada Yahudi (La’natullah ‘Alaihim)  selain BIADAB!!! Dengan alasan akan menghanguskan pergerakan HAMAS tetapi yang terjadi adalah ribuan nyawa penduduk sipil Palestina yang menjadi korban.

Yahudi bahkan telah melanggar kesepakatan Geneva yang  melarang penggunaan Pospor putih (white phosporus). Tetapi apa yang dilakukan oleh dunia. Jawabannya: Tidak Ada!! Tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan Israel. Tidak ada keadilan bagi rakyat muslim Palestina. PBB bahkan berada di bawah ketiak Amerika, saat negara digdaya ini mengatakan Abstain untuk gencatan senjata I (saat tulisan ini dibuat telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Yahudi dan Mesir)!!

img_061a9135bd_un_school_attack_eyadbaba_unrwa5

Obama (yang siang ini segera dilantik bersama para kabinetnya)  pun memberikan komentar yang tidak enak; “Siapapun yang mengganggu Israel berarti ia telah mengganggu kita (AS)”. Belum lagi menteri luar negeri yang akan berada di kabinetnya, yaitu Hilarry Clinton yang jelas-jelas mengikrarkan dirinya mendukung Israel. Kalau sudah begini akankah ada (sekali lagi) keadilan bagi rakyat muslim Palestina??(Lihat artikel Adian Husaini pada posting  sebelumnya)

Saat ini telah terjadi gencatan senjata (untuk sementara). HAMAS pun berjanji tidak ada serangan roket lagi ke Israel. Lantas bagaimana mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Anak-anak yang tidak lagi bisa bersekolah. Anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua. APAKAH INI SEMUA ADIL BAGI MEREKA!!!!

400_0___10000000_0_0_0_0_0_israeli_soldier_points_his_gun_at_a_palestinian_child_in_hebron_city_2007