Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi

21 01 2010

Satu lagi hasil penelitian menegaskan bahwa syariat Islam benar-benar yang terbaik bagi kehidupan manusia, termasuk bagi mereka penderita gangguan kesehatan

Kewajipan shalat lima kali sehari semalam ke atas semua umat Islam bermula sejak Rasulullah diangkat ke langit saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Begitu istimewa sekali ibadah shalat sehingga Rasulullah SAW naik ke langit bagi menerima Rukun Islam yang kedua ini, tidak seperti ibadah-ibadah lain.

Keistimewaan shalat menarik minat peneliti Universiti Malaya (UM). Minat penelitian ini timbul karena dipandang masih teramat sedikitnya kajian yang komprehensif mengenai shalat dari segi saintifik.

Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.

Manfaat lain yang diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti biomedis di Universitas Malaya adalah, shalat bisa mengurangi detak jantung yang cepat, mengurangi sakit punggung, dan menguatkan otot bawah panggul.

Penelitian ini dikethuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim, berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.

Mengutip hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.

“Percobaan yang kami lakukan terhadap dua orang pasien penderita disfungsi ereksi, menunjukkan adanya perbaikan yang cepat (dalam hal kesehatan seksual mereka), setelah menjalani “terapi shalat” selama satu bulan,” katanya kepada para wartawan setelah pembukaan seminar nasional “Shalat Science” di Masjid Wilayah Persekutuan, Malaysia (5/8). Seminar dibuka oleh mantan perdana menteri Malaysia Tun Abdullah Ahmad Badawi.

Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.

Posisi Rukuk


12 raka’at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan

Menurut Ng Siew Chok yang menjalankan kajian otak dalam dalam penelitian ini mengatakan, setiap pergerakan manusia menghasilkan corak gelombang otak yang tertentu dan unik.

Gelombang otak yang dihasilkan ketika pergerakan meliputi gelombang alfa, beta dan gamma.

Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika bersslat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.

“Shalat jelas secara umumnya melibatkan bacaan serta penghayatan ayat suci Al-Quran, doa-doa serta pergerakan yang didapati menyamai meditasi.

“Semasa solat, berhenti seketika sebelum berganti posisi atau tuma’ninah dapat dikatakan seseorang berada dalam masa ketenangan,” katanya.

Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.

Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.

Posisi rukuk dan sujud bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.

“Ibu-ibu non-Muslim hanya melakukan gerakan posisi itu selama terapi berlangsung. Mereka menunjukkan kemajuan hanya dalam waktu satu bulan,” katanya.

Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.

Ia mengatakan, 12 raka’at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan.

Tahajjud

Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan.

Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.

Penelitian berupa disertasi berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik, juga menunjukkan, bahwa shalat tahajjud bisa menjadi penyembuh penderita kanker ganas (swaramuslim)





Menjadi Bangsa Besar Yang Menghargai Pendidikan

28 03 2009

Membicarakan perkembangan pendidikan di Indonesia seringkali membuat kita mengelus dada. Betapa tidak, segenap problematika yang menjadi awan mendung masih menyelimuti aspek yang memiliki peran signifikan bagi keberlangsungan bangsa ini. Jika ditelusuri ada empat persoalan besar yang menjadi perhatian dalam bidang pendidikan. Pertama, persoalan mengenai mahalnya biaya pendidikan. Untuk masuk TK dan SD saja diperlukan biaya sekitar lima ratus ribu rupiah dan masuk SMP atau SMA meningkat menjadi satu hingga dua juta rupiah. Angka ini terus meningkat hingga jenjang pendidikan tinggi hingga mencapai angka ratusan juta rupiah! Padahal menurut BPS, kelompok masyarakat yang memiliki income perkapita hanya rata-rata saratus tiga puluh ribu rupiah (kategori miskin) mencapai jumlah sekitar 46 juta jiwa, jumlah tersebut termasuk jumlah penduduk miskin kota dan desa. Ya.. pendidikan saat ini bisa jadi hanya dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang beruang lalu bagaimana dengan mereka yang termasuk dalam kategori miskin, padahal pendidikan merupakan hak asasi yang harus dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat tanpa kecuali.

Persoalan kedua adalah mutu pengajar yang dimiliki. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa tenaga pengajar harus lulusan sarjana, tetapi faktanya masih terdapat sekitar lima puluh persen guru atau pengajar yang memiliki ijasah D2 untuk keperluan mengajarnya. Belum lagi paradigma bahwa guru bisa segalanya dan anak didik sebagai botol kosong juga menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan pengajar kepada anak didiknya tentu sama sekali bertentangan dengan cita-cita dan tujuan pendidikan itu sendiri. Seringkali guru yang hanya menjelaskan teori tanpa menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Membacakan teori tanpa mengerti bagaimana potensi belajar anak didiknya. Bagaimana anak didik dapat memahami pelajaran jika pengajarnya tidak menjelaskan bagaimana caranya berdasarkan potensi anak didik. Seharusnya guru tidak hanya berfungsi center of science (pusat dari ilmu pengetahuan) tetapi juga menjadi sahabat bagi anak didik untuk terus menemani dan menjelaskan bagaimana cara memahami pelajaran yang diterimanya. Kedekatan (aspek afektif-baca:emosi-) antara pengajar dengan siswa sangat berperan dalam proses belajar mengajar.

Persoalan ketiga adalah persoalan pembangunan infrastruktur bagi kelayakan proses belajar mengajar pendidikan. Sekitar lima puluh persen kondisi gedung sekolah dalam keadaan rusak dan tidak layak untuk berjalannya proses belajar mengajar. Tidak terbayangkan bagaimana anak didik harus beratapkan langit ketika belajar.

Persoalan keempat adalah kurikulum pendidikan yang masih memiliki paradigma simplistik, dimana pintar dalam aspek akademis menjadi tolok ukur. Bahkan, Orang tua sampai merepotkan diri bahkan memaksakan anaknya untuk bisa menjadikan anaknya ’expert’ dalam semua pelajaran, les ini lah.. kursus itu lahh.. tetapi anak Indonesia tidak pernah belajar mengerti bagaimana pintar dalam kehidupan. Pendidikan Indonesia belum menghasilkan generasi dengan etos kerja tinggi, kejujuran, disiplin dan semangat yang tinggi.

Muara dari berbagai persoalan tersebut adalah, lahirnya generasi kwalitet 2. Pelajar dengan kemampuan dan keterampilan yang minim, pelajar dengan tingkat inteligensi yang rendah, pelajar yang terlibat tawuran, pelajar yang terlibat narkoba, pelajar yang terlibat seks bebas, pelajar yang tidak mampu bertahan dalam hidup dan menjadi bulan-bulanan modernisasi zaman?!!!

Berbagai persoalan tersebut akan memerlukan optimalisasi peran dari seluruh lapisan negara. Keluarga sebagai lapisan pertama memiliki peran sebagai institusi awal pendidikan, kedua sekolah sebagai institusi formal yang berfungsi memadukan semua aspek pendidikan. Negara atau pemerintah yang berperan sebagai penentu kebijakan, hendaknya lebih memperhatikan lagi aspek yang mendasar bagi rakyatnya ini. Belum lagi persoalan (nambah lagi deh persoalannya) anggaran pendidikan yang juga masih dalam wilayah kewenangan pemerintah. Anggaran pendidikan yang tidak mencapai 20% disinyalir sebagai akar dari segudang persoalan pendidikan. Bandingkan saja dengan negara tetangga Malaysia yang menganggarkan 40% untuk proses pendidikan rakyatnya. Menjadi sebuah keniscayaan jika pendidikan Indonesia semakin tertinggal jauh dari negara berkembang yang lain. Telah dirasakan upaya serius pemerintah dalam menangani pendidikan bagi anak bangsa, tetapi tetap saja belum dapat dirasakan secara signifikan. Semoga dengan kemampuan mengidentifikasi persoalan yang ada dan motivasi tinggi untuk perubahan, bangsa ini menuju ke arah pencerahan pendidikan. Ya Allah bebaskan kami dari kebodohan dan keserakahan dunia…





Kehampaan Nilai

28 03 2009

llmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi yang  seharusnya memberikan kontribusi bagi kemajuan kemanusiaan  justru semakin menjerumuskan manusia kedalam jurang kenistaan yang jauh dari nilai kearifan. Dan manusia semakin tidak jelas menentukan arah hidupnya. Seperti yang diungkapkan oleh Max Scheller: ”Tidak ada periode lain dalam pengetahuan manusiawi dimana manusia semakin problematic, seperti pada periode kita ini. Kita tidak lagi memiliki gambaran yang jelas dan konsisten tentang manusia. Semakin banyak ilmu-ilmu khusus yang terjun mempelajari tenatang manusia, tidak semakin menjernihkan konsepsi kita tentang manusia; sebaliknya semakin membingungkan dan mengaburkannya”.

Penggagas psikoanalisa, Sigmund Freud menjelaskan bahwa perilaku manusia   dikendalikan sepenuhnya oleh insting-insting libido dan hasrat mortalitas yang agresif. Oleh karena itu manusia yang berperilaku didasarkan pada syahwat dan dorongan atau insting-insting yang berorientasi pada materi akan menunjukkan perilaku yang selayaknya perilaku binatang. Problematika berpikir yang menjadi ciri manusia modern adalah lebih mementingkan kepentingan materilnya dalam memahami kehidupan, semua dilakukan atas dasar ‘kecepatan’ dalam mendapatkan sesuatu (instan) dan selalu mengutamakan sesuatu atas dasar ‘rasa nikmat’ (hedonisme).Budayawan Indonesia Mudji Sutrisno mengatakan: “Minim sekali orang yang hidup atas dasar nilai. Semua pihak baik pemimpin, politisi maupun wartawan sekalipun lebih menyandarkan hidup pada unsur kepentingan. Kita menuliskan, kita mengerjakan sesuatu atas dasar kepentingan, yaitu fisik karena lebih dekat dan bisa langsung digarap. Yang lebih menghargai proses dan nilai kehidupan itu nol! Semua lebih mementingkan yang instan”.

Manusia memang telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri; tapi pada saat yang sama manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri alias, manusia tidak dapat lepas dari belenggu lain yaitu penyembahan kepada diri sendiri. Alat-alat modern yang diyakini dapat digunakan untuk kemaslahatan kehidupan umat manusia justru menyebabkan mansuia menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Bahkan alat teknologi hanya menjadi alat untuk kepentingan individu yang dipaksakan kepada massa. Teknologi bahkan hanya bersifat semu yang hanya memperbudak masyarakat menjadi makhluk otomat dan menjadi hamba atas ciptaannya sendiri. Problematika yang terjadi saat ini semakin kompleks dan mengalami komplikasi kronis yang belum menunjukkan adanya tanda-tasnda kesembuhan. Manusia menjadi semakin ‘liar’ dan tidak mampu lagi memahami hakikat hidupnya saat ini. Kejumudan berpikir manusia menjadikannya tidak lagi dapat menggunakan akal sehatnya dan bahkan hati nuraninya.

Kita bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana seksualitas menjadi komoditi utama di beberapa media kita. Dengan mudah dan tanpa adanya rasa bersalah seorang wanita akhirnya rela menggadaikan tubuhnya hanya untuk mendapatkan beberapa ratus ribu rupiah, pergaulan bebas para muda-mudi yang menjadi trendsetter dan beberapa kerusakan perilaku lainnya. Persoalan dehumanisasi yang lebih luas seperti saat kita menyaksikan bagaimana bengisnya negara imperialis barat yang melakukan penyerangan ke beberapa negara kecil yang dianggapnya berbahaya, ratusan bahkan ribuan rakyat tak berdosa menjadi korbannya.

Manusia menjadi srigala bagi manusia yang lain. Manusia berhak menentukan hidup manusia yang lain bahkan manusia berhak berlagak seperti Tuhan bagi manusia yang lain. Fromm mengatakan bahwa ketidakadaan nilai dalam kehidupan manusia adalah akibat dari manusia tidak menerima otoritas dari Tuhan. Menurut Fromm, siapa yang tidak menuruti otoritas Tuhan akan mengikuti: 1) relativisme penuh, dimana nilai dan norma sepenuhnya adalah urusan pribadi, 2) nilai tergantung dari masyarakat, sehingga nilai  golongan dominan akan menguasai dan 3) nilai tergantung pada kondisi biologis, sehingga darwinisme sosial, egoisme, kompetisi dan agresivitas adalah nilai-nilai kebajikan.

Jauh sebelum kerusakan manusia ini menggejala, Islam sudah memperingatinya melalui Kitab sucinya Al-Qur’an: “Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)”. (QS. 30:41). Dan diperjelas kembali melalui Sunnah Nabi besar Muhammad SAW:”Akan tiba zaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya urusan perut dan kebanggaan mereka hanya pada benda semata. Kiblat mereka hanya urusan seks (wanita) dan agama mereka adalah dinar (uang) dan dirham (uang). Mereka adalah makhluk terjelek dan tidak ada kebaikan di sisi Allah”. Rasulullah menambahkan kembali dalam sabdanya:”Dalam umat ini akan ada kebinasaan dan kemusnahan”, sahabat bertanya:”kapankah itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda:”Jika biduanita makin banyak, musik dan minum khamr makin banyak”. Kembali Rasulullah menegaskan bahwa ciri-ciri kehancuran zaman ditandai dengan:”Ketika itu Allah mengirim angin yang harum lalu mencabut nyawa setiap mu’min dan muslim, hingga yang tersisa adalah orang-orang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (di muka umum tanpa rasa malu), maka saat itulah kiamat akan terjadi”.

Islam memberikan pandangan yang jelas dan komprehensif mengenai manusia dan kehidupan yang dinaunginya. Pemikiran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan, dan akhlak Islam. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Sedangkan nilai yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian dan akhlak. Selebihnya adalah nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain seperti mu’amalah, sangsi, hubungan antar negara dan peraturan publik lainnya. “Kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (yaitu Al-qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu”. (QS. An-Nahl:89).

Islam adalah agama humanis. Islam tidak akan membebani kewajiban yang berat yang tidak sesuai dengan kemampuan hambanya.”Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah:286). Manusia pada dasarnya juga memiliki naluri untuk menyandarkan segala kebutuhan dan keluh kesahnya kepada Dzat yang lebih Agung, Yang Maha Besar, Dzat itu tiada lain adalah Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Perasaan lemah, kerdil dan merasa tidak memiliki apa-apa diimplementasikan manusia melalui ibadah yang semata-mata untuk mengagungkan Dzat Yang Maha besar. Disinilah letak rasionalitas mengapa akhirnya manusia membutuhkan agama, dan mengapa Allah Subhannahu Wa Ta’ala menjadi Tuhan yang pantas disembah dan tiada Tuhan lain yang pantas diibadahi selain Dia. “Tidakkah kamu melihat bagaimana kepada Allah bertasbih langit dan bumi serta burung-burung dengan berbaris”. (QS. An-Nur:41).

Sehingga bagi seorang muslim cukuplah Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup dalam menentukan langkah, bagi kita cukuplah hanya Allah SWT yang pantas kita ibadahi, dan cukuplah bagi kita untuk mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah yang wajib kita patuhi segala apa yang menjadi contoh dalam Sunnahnya. Wallahu A’lam Bishowab.

Sumber:

Purwanto, Yadi. 2002. Buku Ajar Kuliah Pasca Sarjana Psikologi. UMS

Kuntowijoyo. 2004. Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi dan Etika. Jakarta: Teraju Mizan

Erich Fromm dalam Kuntowijoyo. 2004. idem





LA’NATULLAH ‘ALAIHIM

20 01 2009

israel-flagTidak ada kata lain yang dapat teriakkan kepada Yahudi (La’natullah ‘Alaihim)  selain BIADAB!!! Dengan alasan akan menghanguskan pergerakan HAMAS tetapi yang terjadi adalah ribuan nyawa penduduk sipil Palestina yang menjadi korban.

Yahudi bahkan telah melanggar kesepakatan Geneva yang  melarang penggunaan Pospor putih (white phosporus). Tetapi apa yang dilakukan oleh dunia. Jawabannya: Tidak Ada!! Tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan Israel. Tidak ada keadilan bagi rakyat muslim Palestina. PBB bahkan berada di bawah ketiak Amerika, saat negara digdaya ini mengatakan Abstain untuk gencatan senjata I (saat tulisan ini dibuat telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Yahudi dan Mesir)!!

img_061a9135bd_un_school_attack_eyadbaba_unrwa5

Obama (yang siang ini segera dilantik bersama para kabinetnya)  pun memberikan komentar yang tidak enak; “Siapapun yang mengganggu Israel berarti ia telah mengganggu kita (AS)”. Belum lagi menteri luar negeri yang akan berada di kabinetnya, yaitu Hilarry Clinton yang jelas-jelas mengikrarkan dirinya mendukung Israel. Kalau sudah begini akankah ada (sekali lagi) keadilan bagi rakyat muslim Palestina??(Lihat artikel Adian Husaini pada posting  sebelumnya)

Saat ini telah terjadi gencatan senjata (untuk sementara). HAMAS pun berjanji tidak ada serangan roket lagi ke Israel. Lantas bagaimana mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Anak-anak yang tidak lagi bisa bersekolah. Anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua. APAKAH INI SEMUA ADIL BAGI MEREKA!!!!

400_0___10000000_0_0_0_0_0_israeli_soldier_points_his_gun_at_a_palestinian_child_in_hebron_city_2007





Air Mata Al Aqsa

6 01 2009

Adik-adikku merintih perih…palestine-7
Ibu-ibuku menangis teriris luka…
Ayah-ayahku terkulai tak bernyawa…

27 Desember 2008
Roket-roket menghancurkan tempat tinggal kami…
Peluru-peluru tajam menghabisi nyawa saudara-saudara kami…
Zionis melumat semuanya…
Tanah suci kami…
Kota suci kami…

Teringat saat baginda Nabi Muhammad menghampiri Masjid Al Aqsa sebelum ia bertolak menempuh perjalanan Isra’ wal Mi’raj….
Teringat saat Masjid Al Aqsa menjadi Qiblat kami…

27 Desember 2008
Zionis melumat semuanya…
Tanah suci kami…
Kota suci kami…
Kusadari dho’ifnya diri ini…
Teringat saat tangan ini tak bergerak melawan… tenggelam dalam kemaksiatan
Teringat saat mulut ini tak berbicara melawan… berulang khilaf tetap kulakukan
Aku lebih cinta duniaku… dan aku takut mati meninggalkannya

Yaa Allah kumohon hentikan ini semua…
Maafkanlah dosa-dosa kami…
Tuntunlah kami kembali ke jalanMu…
Ampunilah kami yaa Allah…

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.1

1 Al-Quran surat Al Baqarah: 286.
Ingatlah mereka dalam doa-doamu
Sematkan mereka dalam hatimu….
Untukmu saudaraku…. Ummat Muslim Palestina





Setelah Kemenangan Barack Hussein Obama

24 12 2008
Ditulis Oleh Adian Husaini

 Rabu (6 November 2008) siang waktu Indonesia, Barack Hussein Obama akhirnya jadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Dunia gembira. Sorak sorai di mana-mana. Tak sedikit yang mengucurkan air mata. Anak imigran berkulit hitam keturunan Afro-Amerika berhasil menjebol tembok rasialis yang kokoh tertanam 232 tahun sejak Amerika merdeka, 1776.

Tak terkecuali di Indonesia. Sejumlah stasiun TV menayangkan saudara-saudara dan kawan-kawan Obama yang bersuka cita, bangga, berurai air mata bahagia menyambut kemenangan Obama. Dia pun dapat julukan mentereng: ’anak Menteng’. Syahdan, dia pernah tinggal 3,5 tahun di Indonesia.

Ya, Obama membuat sejarah. Di Amerika dan di dunia. Umat Islam pun turut gembira. Sejumlah tokoh yang biasa muncul di media mengumbar kata-kata penuh harap. Obama akan beda dengan pendahulunya, George Bush, yang sering dijuluki sang pengumbar angkara.   Obama akan mau bicara; bukan hanya mengumbar senjata.

Obama muncul ketika dunia  sedang sakit. Amerika sakit. Eropa sakit. Indonesia juga sakit.  Krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, perang yang tiada henti, semakin membuat banyak penduduk bumi frustrasi. Cara apalagi yang bisa digunakan untuk menyulap dunia menjadi rumah damai?  Banyak yang kemudian putus asanya. Patah arang.

Padahal, dunia sedang merindukan obat  mujarab untuk keluar dari krisis. Dan Obama muncul pada saat yang tepat. Penampilannya luar biasa. Pidatonya menyihir milyaran umat manusia. Dia mengawali pidato dengan kata-kata memukau: “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer”.

Luarrr biasa! Jika ada yang masih ragu bahwa di Amerika segala sesuatu bisa terjadi, kata Obama, maka dia sudah membuktikannya! Dia bisa jadi Presiden Amerika dalam usia belia. Keturunan warga kulit hitam yang ratusan tahun dijadikan sebagai budak dan diinjak-injak, justru kemudian membalik sejarah. Dia menjadi pemimpin negara adikuasa.  Itu Obama bin Hussein!

Jangan terlalu berharap!

Kemenangan Obama tentu menyiratkan harapan besar. Setidaknya, masih ada yang bisa diharap. Tapi, untuk mengubah kebijakan luar negeri AS, bukanlah perkara mudah. Mantan pejabat Deplu Amerika, William Blum, dalam bukunya Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower (2002),  pernah mengajukan resep untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi warga AS: (1) minta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS, (2) umumkan dengan jiwa tulus ke seluruh pelosok dunia, bahwa  intervensi global AS telah berakhir (3)  umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51 (4) potong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen.

Kata Blum, itulah program tiga harinya di Gedung Putih, andaikan dia diangkat menjadi Presiden AS. Hanya saja, katanya, “On the fourth day, I’d be assassinated.”

Blum menggambarkan betapa peliknya problem politik luar negeri AS. Sifat ofensifnya sudah sangat mencengkeram dunia. Tidak mudah bagi Presiden siapa pun untuk mengubah tradisi imperialistik semacam itu.  Film JFK garapan Oliver Stone menggambarkan bagaimana terbunuhnya John F. Kennedy juga tak lepas dari benturannya dengan ’kepentingan besar’  tersebut. Mampukah Obama membuat sejarah baru dalam hal ini? Kita tunggu saja! Toh, dia sudah berpidato: ”America is a place where all things are possible.”

Rumus serupa juga pernah disampaikan perumus teori dependensia dan strukturalisme, Prof Johan Galtung, dalam wawancaranya dengan harian Kompas di Jakarta (17/11/2002).  Ketika itu, Galtung ditanya tentang  penyelesaian soal peristiwa 11 September 2001 dan program perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Jawab Prof. Galtung: “Dibanding serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Serangan AS terhadap Afganistan memenuhi kriteria tindakan teroris.”

Penerima Right Livelihood Award tahun 1987 ini mengaku berulangkali menjawab pertanyaan soal serangan 11 September 2001: “Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS!”   Ia juga berkirim surat kepada Presiden AS George W Bush – yang isinya meminta AS mengubah politik luar negeri, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. Tapi, suratnya, memang  tidak digubris. “Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi, yang dilakukan justru sebaliknya,” ujarnya.

Imperialisme Barat yang melahirkan kezaliman global, seperti yang dinyatakan Blum bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pendapat Prof. Noam Chomsky, dalam bukunya, Year 501: The Conquest Continues, Ketua Just World Trust (JUST)  Malaysia, SM Mohammed Idris menulis:

“Penaklukan bagi Dunia Baru, dalam sejarah peradaban, telah berakibat pada dua katastrofi demografik yang sangat luas, yang tidak saling berkaitan: pemusnahan yang sungguh-sungguh atas penduduk susku-suku asli yang tinggal di kawasan Barat dan penghancuran bangsa-bangsa Afrika dengan memperbudak penduduknya dan memperjualbelikannya dalam ekspansi besar-besaran demi memenuhi keserakahan para penakluk… Ketika keadaan telah berubah, tema fundamental dari penaklukan tetap bertahan dalam vitalitas dan daya lentingnya, dan akan terus berlanjut sedemikian sehingga dalam kesadaran tentang sebab-sebab ketidakadilan nan ganas yang betul-betul dikemukakan secara jujur dan terbuka.” (Lihat, Candra Muzaffar dkk., Human’s Wrong: Rekor Buruk Dominasi Barat atas Hak Asasi Manusia, (Yogya: Pilar Media, 2007), hal. 446).

Untuk mempertahankan hegemoninya, berbagai instrumen – politik, ekonomi, budaya, ideologi, militer – digunakan. Hingga kini, meskipun didesak sebagian besar negara-negara dunia, AS dan sekutunya tetap enggan melepas hak istimewa ’veto’ di PBB. Hak istimewa atas penguasaan persenjataan nuklir juga terus dipertahankan. Sebab, AS dan sekutunya memang memposisikan diri sebagai ”malaikat” dan musuh-musuh mereka diposisikan sebagai ”poros setan” (axis of evil). Dalam kasus dunia Islam, hak istimewa Negara Yahudi Israel tetap dilindungi, meskipun laporan kebiadaban dan pelenggaran HAM Israel telah  menumpuk di markas PBB.  Setiap Presiden AS – baik dari Partai Demokrat atau Republik – masih tetap menjalankan politik luar negeri yang tidak masuk akal  dalam membela negara zionis tersebut.

Literatur yang mengupas hubungan spesial antara AS dan Israel sangat melimpah. Bernard Reich, misalnya,  dalam artikelnya berjudul ‘The United States and Israel: The Nature of a Special Relationship’ (yang dimuat dalam buku The Middle East and The United States:  A Historical and Political Reassessment (ed. David W. Lesch), Westview Press, 1996),  menggambarkan tradisi tiap Presiden AS untuk membuat pernyataan berisi komitmen untuk mempertahankan hubungan spesial antara AS dan Israel. Berbagai upaya perdamaian Israel-Palestina pertama kali harus menjamin kepentingan Israel. untuk

Presiden Bill Clinton, misalnya, membuat pernyataan: “In working for peace in the Middle East, a first pillar is the security of Israel.”

Bantuan-bantuan AS terhadap Israel yang sangat fantastis diungkap oleh Paul Findley dalam bukunya Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship.  Setiap tahun, negara Yahudi berpenduduk sekitar 6 juta jiwa ini menerima bantuan AS yang jumlahnya melampaui bantuan yang diberikan pada negara-negara lainnya. Sejak tahun 1987, bantuan ekonomi dan militer langsung berjumlah 3 milyar USD atau lebih. Antara 1949 sampai akhir 1991, pemerintah AS telah memberikan dana senilai 53 milyar USD kepada Israel dalam bentuk bantuan maupun keuntungan-keuntungan istimewa. Jumlah itu setara dengan 13 persen dari semua bantuan ekonomi dan militer AS ke seluruh dunia dalam kurun yang sama. Sejak perjanjian damai Mesir-Israel tahun 1979 sampai 1991, jumlah total bantuan AS ke Israel mencapai 40,1 milyar USD, atau setara dengan 21,5 persen dari semua bantuan AS, termasuk semua bantuan bilateral maupun multilateral. Tahun 1992, Senator Robert Byrd dari Virginia Barat, mengungkapkan data-data yang menunjukkan begitu royalnya bantuan AS kepada Israel. Dia katakan: “Kita telah memberikan bantuan luar negeri kepada Israel selama beberapa dasawarsa dengan jumlah dan syarat-syarat yang belum pernah diberikan kepada satu negeri mana pun di dunia ini. Sekutu-sekutu Eropa kita, sebagai perbandingan, hampir tidak memberikan apa-apa.”

Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini?  Hingga kini, tanda-tanda itu belum ada sama sekali! Kondisi internal politik AS, kekuatan lobi Yahudi, dan dinamika politik dalam negeri Israel sendiri, beberapa kali menjadi faktor penghambat pembentukan negara Palestina merdeka. Perjanjian Camp David II  di Presiden Clinton berakhir  dengan kegagalan. Presiden George W. Bush sempat  berkoar akan merealisasikan pembentukan negara Palestina tahun 2005. Tapi, ujungnya juga kegagalan. Memang, secara substansial, Obama diduga akan sama saja dengan pendahulunya. Tapi, apa salahnya berharap ada perubahan. Toh Obama sudah terlanjur bicara: “America is a place where all things are possible.”

Soal Palestina dipandang oleh berbagai kalangan sebagai isu terpenting dalam penyelesaian masalah terorisme. Berbagai pemimpin dunia Islam sudah mengimbau agar AS mengubah kebijakan anti-terornya yang jelas-jelas menganakemaskan Israel. Kelompok perlawanan Hamas dicap sebagai teroris. Sedangkan Israel justru diangkat sebagai sekutu utama dalam pemberantasan terorisme. Bahkan, Prof. Chomsky sendiri tak segan-segan mengkritik negaranya: “We should not forget that the US itself is a leading terrorist state.”

Masalahnya lebih pelik ketika isu terorisme bukanlah isu yang harus diselesaikan, tetapi justru isu yang direkayasa untuk memberikan justifikasi keberlangsungan industri persenjataan di AS. Jika tidak ada musuh lagi, peperangan tiada lagi, bagaimana nasib industri senjata? Maka, tidaklah berlebihan, ketika Huntington menulis dalam buku populernya, The Clash of Civilizations and the Remaking of  World Order (1996), bahwa keberadaan musuh harus tetap dipertahankan. ”For self definition and motivation people need enemies,” tulis Huntington.

Pasca Perang Dingin, hubungan AS-Dunia Islam bahkan lebih pelik lagi. Strategi preemptive strike (serangan dini) yang dijalankan AS semakin menggencarkan penyebaran paham liberal keagamaan di dunia Islam. AS mengucurkan dana besar-besaran kepada kelompok-kelompok dan kalangan Muslim tertentu untuk membangun apa yang disebutnya sebagai ’Islam progresif’. Isu-isu liberalisasi, kesetaraan gender, pluralisme agama, multikulturalisme, dan sebagainya menjadi isu-isu favorit bagi AS dan LSM-LSM bentukannya.

Dalam masalah ini, AS bertindak lebih jauh dibanding kolonial Belanda dulu. Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam dijadikan sasaran penting oleh AS dan negera-negara Barat lain. Ini pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo:  “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru,  lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Republika, 3/12/2005).

Karena itu, tidak mudah bagi Obama untuk keluar dari ’jaring-jaring kebijakan global’ seperti ini. Banyak pemimpin Barat yang menghendaki umat Islam mengubah pikirannya agar menyesuaikan diri dengan ’dunia modern’. Dan tanpa disuruh pun, sudah banyak kalangan cendekiawan yang sudah menjalankan perintah Barat, karena keberhasilan program ’cuci otak’.  Maka tidak heran, jika ekspor paham liberal ke tengah-tengah umat Islam tampaknya akan berjalan terus.  Apalagi, Partai Demokrat pun memiliki kebijakan moral dan agama yang lebih liberal dibanding Republik. Bisa-bisa, politik belah bambu akan terus dijalankan: kelompok-kelompok liberal di Indonesia akan semakin diangkat ke atas, dan kaum non-liberal semakin diinjak.

Identitas keislaman Obama bisa menjadi batu sandungan psikologis bagi dirinya. Tudingan bahwa dirinya akan lebih mendekat ke Islam, malah bisa membuat dia ingin menunjukkan sikap sebaliknya. Setidaknya, Obama akan bersikap jauh lebih hati-hati dalam soal Islam.  Maka, dalam kaitan ini, Obama diduga tidak akan banyak berbeda dengan pendahulunya. Politik Islam AS tetap berpegang pada norma internasional: diabdikan untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Jadi, tidaklah realistis berharap terlalu banyak pada Obama. Hanya saja, sekali lagi, boleh-boleh saja berharap sedikit. Toh, Obama sudah terlanjur berkata, di Amerika, segala sesuatu mungkin saja terjadi: “America is a place where all things are possible.”

Jadi, dalam situasi yang berat tersebut, umat Islam sebaiknya tidak terlalu berharap serius pada seorang Obama.  Kemenangan Obama adalah sebuah drama (tontonan) yang menarik.  Ibarat obat sakit kepala, Obama bisa meringankan pusing sejenak. Nantinya, entahlah!  Tentu, lebih menarik andaikan tontonan ini dilanjutkan ke babak berikutnya: Obama bin Hussein bertemu dengan Osama bin Ladin.  Dua tokoh puncak dunia bertemu. Dunia mungkin akan segera damai. Pabrik senjata gulung tikar. Tentara AS pulang kandang.  Ini memang mimpi. Tapi, bukankah kata Obama,  di AS semua bisa terjadi dan AS juga dibangun oleh mimpi para pendirinya?

Maka, tidak ada salahnya, kita bermimpi di atas mimpi. Toh mimpi masih bebas pajak di negara Republik Indonesia. [Depok, 7 November 2008/www.hidayatullah.com]





Problem Belajar

16 12 2008

Apakah saat ini anda memiliki anak usia sekolah tetapi masih mengalami kesulitan menulis dengan baik dan rapi. Atau anak anda mengalami kesulitan membaca walaupun dengan susunan kalimat yang sederhana. Atau bahkan anak anda mengalami kesulitan memecahkan operasional berhitung walaupun dengan bilangan yang sederhana.

Ada tiga jenis istilah yang sering dikacaukan pengertiannya karena mempunyai gejala yang sama yaitu prestasi belajar yang rendah. Ketiga jenis istilah tersebut ialah kesulitan belajar, lambat/lamban belajar dan tunagrahita. “Anak kesulitan belajar” tidak sama dengan “Anak tunagrahita”. Anak berkesulitan belajar umum biasanya ditandai dengan prestasi belajar yang rendah untuk hampir semua mata pelajaran atau nilai rata-rata jauh di bawah rata-rata kelas sehingga mempunyai resiko tinggi untuk tinggal kelas. Kesulitan tersebut bukan disebabkan oleh rendahnya tingkat inteligensi anak, bahkan pada beberapa kasus anak yang mengalami kesulitan belajar memiliki tingkat inteligensi yang tinggi. Pada bagian ini akan saya utarakan beberapa gejala kesulitan belajar akademik[1] yang umumnya dialami oleh anak usia sekolah.

Kesulitan belajar Membaca (Disleksia)

Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia. Ada dua tipe disleksia; dislesksia auditori dan disleksia visual. Gejala-gejala disleksia auditori adalah sebagai berikut:

1) Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik, contohnya anak tidak dapat membedakan ‘kakak, kapak, katak’;

2) Kesulitan analisis dan sintesis auditoris, contohnya ‘ibu’ tidak dapat diuraikan menjadi ‘i –bu’ atau problem sintesa ‘p – i – ta’ menjadi ‘pita’. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja;

3) Kesulitan reauditoris bunyi atau kata. Jika diberi huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau kalau melihat kata tidak dapat mengungkapkannya walaupun mengerti arti kata tersebut;

4) Membaca dalam hati lebih baik dari membaca lisan;

5) Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris;

6) Anak cenderung melakukan aktivitas visual.

Gejala-gejala disleksia visual adalah sebagai berikut:

1) Tendensi terbalik, misalnya b dibaca d, p menjadi g, u menjadi n, m menjadi w dan sebagainya;

2) Kesulitan diskriminasi, mengacaukan huruf atau kata yang mirip;

3) Kesulitan mengikuti dan mengingat urutan visual. Jika diberi huruf cetak untuk menyusun kata mengalami kesulitan. Misalnya kata ’ibu’ menjadi ubi atau iub;

4) Memori visual terganggu;

5) Kecepatan persepsi lambat;

6) Kesulitan analisis dan sintesis visual;

7) Hasil tes membaca buruk;

8) Biasanya lebih baiok dalam kemampuan aktivitas auditoris.

Kesulitan belajar menulis (Disgrafia)

Kesulitan belajar menulis disebut juga disgrafia. Kesulitan belajar menulis berat disebut agrafia. Kegunaan kemampuan menulis bagi siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan menulis adalah sebagai berikut:

a. Tulisan terlalu jelek atau tidak terbaca;

b. Sering terlambat dibanding yang lain dalam menyalin tulisan;

c. Tulisan banyak salah, banyak huruf terbalik atau hilang;

d. Sulit menulis dengan lurus dengan kertas tak bergaris;

e. Menulis huruf tidak sesuai dengan kaidah bahasa.

Kesulitan belajar berhitung (Diskalkulia)

Kesulitan belajar menghitung disebut diskalkulia. Kesulitan belajar menghitung berat disebut akalkulia. ada tiga elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai anak. Ketiga elemen itu adalah (a) konsep, (b) komputasi, dan (c) pemecahan masalah. Ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan berhitung adalah sebagai berikut:

a. Sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan;

b. Sering sulit mengoperasikan hitungan/bilangan meskipun sederhana;

c. Sering salah membilang dengan urut;

d. Sulit membedakan angka yang mirip, misalnya 6 dengan 9, 17 dengan 71;

e. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Seperti halnya bahasa, berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu kesulitan membaca, menulis dan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain di sekolah.

Tidak perlu panik jika anak anda mengalami kondisi seperti yang tersebut di atas. Yang perlu anda lakukan adalah segera kenali kesulitan belajar anak kemudian konsultasikan segera dengan ahli dalam hal ini adalah konselor sekolah atau psikolog.


[1] Klasifikasi kesulitan belajar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi di sekolah

Sumber Bacaan: Yusuf, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Dengan Problema Belajar. PT. Tiga Serangkai: Solo








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.